SUNSET KOTA ENDE

Kabupaten Ende memiliki  Keindahan alam  yang sangat beragam.  Selain terkenal dengan Danau Kelimutu yang merupakan satu-satunya danau di dunia yang memiliki tiga warna dan selalu berganti warnanya dalam kurun  waktu tertentu,  ternyata di pusat Ibukotanya tepatnya  di pantai Bahari Kota Ende memiliki  pesona alam yang sangat indah.pantai-bahari-ende-flores-ntt

Senja yang akan dijemput malam dan mentari yang akan meninggalkan peraduannya  menorehkan suatu pemandangan yang  menakjubkan bagi setiap orang yang menghabiskan waktunya di pantai bahari. Di temani  desiran ombak dan pedagang kaki lima yang menjajakan aneka kue yang berasal panganan lokal  serta menambah keakraban alam dengan para penguhininya.senja-pantai-bahari-ende

Kota Ende menyimpan sejuta pesona  keindaahan. Sunset yang  hendak di jemput malam menjadi daya tarik bagi setiap orang yang memandanginya. Kota Ende tidak hanya dikenal sebagai kota bersejarah/kota pancasila dimana Bung Karno  merenung dan menggali Pancasila sebagai dasar Negara. Namun keindahan alamnya yang mempesona dan dukungan potensi wisata dengan  penduduknya yang ramah akan  memberikan kenangan  bagi setiap wisatawan.sunset-pantai-bahari-ende-flores

NDONA: POTRET DAN CORONG KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Sebuah moment indah pada tanggal 9-16 September 2012. Suatu pemandangan yang cukup menarik dan langka di negeri ini ketika menyaksikan kelompok masyarakat  yang berbeda keyakinan berbaur dalam satu suasana kebersamaan tanpa ada sekat yang membedakan dari sisi keyakinannya.kerukunan-bergama-di-ndona1.jpg

Dalam acara penyambutan salib Orang Muda Katolik (OMK) Masyarakat Kecamatan Ndona yang berbeda keyakinan itu bersama-sama menyambut salib OMK dari  desa ke desa dan dari lingkungan ke lingkungan. Demikian pula ketika acara pawai takbiran menyambut Idul Fitrih 1433 H yang lalu, masyarakat non muslim-pun juga ikut berpartisipasi dan bahu membahu dalam menyemarakan pawai takbiran idul fitrih.pawai-takbiran-idul-fitrih-1433-remas-al-anshor-ndona

Suasana ini merupakan suatu potensi dan nilai tersendiri di wilayah Ndona. Ndona merupakan corong kerukunan dan kekeluargaan di wilayah Kabupaten Ende dan mungkin pula di pelosok negeri ini. Di wilayah ibukota Kecamatan Ndona ini selain berdiri Istana Keusukupan Agung Ndona yang bernilai histori dan Gereja Maria Imaculata Ndona, namun berdiri pula 8 buah masjid dan mushola yang tersebar di beberapa lingkungan yang berjarak kurang lebih 1 Km.kerukunan-bergama-di-ndona

Sementara itu secara keseluruhan di wilayah Kecamatan Ndona terdapat 10 Buah masjid dan mushola, 2 buah gereja dan 16 buah Kapela. Dengan jumlah penduduknya yang beragama islam 3125, Katolik 10.061, dan protestan 10 jiwa (Sumber: portal.endekab,2008)

Dari potensi tersebut, perbedaan keyakinan bukanlah sekat yang harus memisahkan semangat persaudaraan bagi mereka. Berbagai isu yang berbau SARA dan menimpa negeri ini tidak berlaku bagi masyarakat Ende umunya dan Ndona khususnya. Satu hal yang menjadi faktor perekatnya sebagai nilai kearifan lokal adalah adanya hubungan kawin mawin dan satu keyakinan masyarakat bahwa mereka adalah satu keluarga.

Inilah yang menjadi nilai kearifan lokal dan memiliki makna karena tetap menjadi rujukan dalam mengatasi setiap dinamika kehidupan sosial, lebih-lebih lagi dalam menyikapi berbagai perbedaan yang rentan menimbulkan konflik. Keberadaan nilai kearifan lokal justru diuji ditengah-tengah kehidupan sosial yang dinamis. Di situlah sebuah nilai kebersamaan dan kekeluargaan dirasakan. Secara empiris nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Ndona telah teruji keampuhannya ketika isu-isu SARA menimpa negeri ini.

Dalam tahun-tahun belakangan ini semakin banyak didiskusikan mengenai kerukunan hidup beragama. Diskusi-diskusi yang sangat penting, bersamaan dengan berkembangnya sentimen-sentimen keagamaan, yang setidak-tidaknya telah menantang pemikiran teologi kerukunan hidup beragama itu sendiri, khususnya untuk membangun masa depan hubungan antaragama yang lebih baik–lebih terbuka, adil dan demokratis.pawai-takbir-idul-fitrih-1433-h-remas-al-anshor-ndona

Kita semua tahu, bahwa masalah hubungan antaragama di Indonesia belakangan ini memang sangat kompleks. Banyak kepentingan ekonomi, sosial dan politik yang mewarnai ketegangan tersebut. Belum lagi agama sering dijadikan alat pemecah belah atau disintegrasi, karena adanya konflik-konflik di tingkat elite.

Namun dalam sejarah kehidupan umat beragama, sering terjadi bahwa perbedaan keagamaan dan keimanan dijadikan sebagai pemicu atau alasan pertentangan dan perpecahan. Di banyak tempat, termasuk di negeri ini, telah terjadi konflik berdarah dan berapi yang menelan banyak korban manusia dan harta benda, serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan di pelbagai bidang, di lingkungan kita. Unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu dan sasaran penghancuran dalam konflik tersebut.

Menurut pemahaman teoritis dan pengakuan “oral” banyak pihak, agama bukan dan tidak boleh dipandang serta dijadikan sebagai pemicu konflik dan perpecahan, melainkan adalah dan harus dipandang serta dijadikan sebagai penunjang perdamaian dan persatuan.

Namun kenyataannya dalam perilaku atau tindakan orang-orang tertentu, entah dengan sengaja atau tidak, agama dipakai sebagai pemicu konflik dan perpecahan.

Bahkan ada orang-orang tertentu yang menganggap dan menjadikan agama sebagai dasar atau alasan untuk tidak boleh hidup bersama atau harus hidup terpisah, tidak boleh berdamai atau rukun dengan orang yang berbeda agama. Bahkan ada anjuran untuk memusuhi dan membinasakan orang-orang yang beragama lain.

Akan tetapi uraian singkat tentang masyarakat Ndona di atas merupkan potret dan corong bagi masyarakat di negeri dalam kehidupan beragama. Perbedaan bukanlah suatu musuh yang harus di jauhi karena dalam diri kita sendiri sudah ada perbedaan. Tangan kiri dan tangan kanan bentuknya tidaklah sama, mata kiri dan mata kanan juga tidak sama, namun ketika salah satu bagian tubuh yang dicubit ataupun terantuk semua anggota badanpun akan merasakan kesakitan dan mulutlah yang ditugsakan untuk berteriak kesakitan. Demikian pula dengan hidup dan kehidupan bergama. Perbedaan dikelola sebagai potensi untuk membangun dalam semangat kebersamaan.

Jika Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Suryadharma Ali pernah mengungkapkan rasa kagumnya ketika acara pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran XXIV tingkat nasional di Kota Ambon, Kamis (7/6/2012) bahwa, potret kerukunan antarumat beragama ada di Kota Ambon., namun bagi kami Kabupaten Ende khususnya di Wilayah Kecamatan Ndona merupakan sentralnya Kerukunan Umat Beragama.

Oleh : Ihsan Dato

KEBUDAYAAN SUKU ENDE-LIO DI FLORES

Ende merupakan Kota Kabupaten yang terletak di tengah-tengah pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Di wilayah Kabupaten Ende terdapat dua (2) suku yang mendiami daerah tersebut, yakni suku Ende dan Suku Lio. Pada umumnya suku Lio bermukim di daerah pegunungan. Lokasinya sekitar wilayah utara Kabupaten Ende. Dan suku Ende bermukim di daerah pesisir yakni bagian selatan Kabupaten Ende.upacara adat goro fata joka moka-desa manulondo ndona

Pada dasarnya, bentuk kebudayaan kedua suku ini hampir sama, yang membedakannya adalah hasil pencampuran kebudayaan atau akulturasi. Budaya suku Lio merupakan perpaduan suku asli daerah Lio dengan ajaran Kristen Katolik yang dibawah oleh bangsa Belanda. Sedangkan budaya suku Ende merupakan perpaduan budaya asli daerah Ende dengan budaya Islam yang dibawah oleh pedagang-pedagang dari Sulawesi, yakni Makasar.

Sebab akibat masuknya ajaran Islam yang dibawah oleh kaum pedagang dari Makasar adalah lokasi bermukim suku Ende yang terletak di daerah pesisir pantai. Mengingat jalur penghubung menuju daerah luar pada saat itu hanya melalui transportasi laut, maka hal itu juga yang menghubungkan jalur perdagangan, ditambah dengan sikap masyarakat suku Ende yang terbuka pada hal-hal baru; dengan sendirinya para pedagang tersebut merasa bahwa kedatangannya diterima.

Pada saat kapal niaga yang mengangkut para pedagang tersebut datang, mereka disambut baik dan ramah oleh masyarakat setempat. Merasa kedatangan mereka diterima, sebagian dari pedagang tersebut bahkan ingin menetap di daerah Ende dan menikah dengan orang-orang masyarakat suku asli Ende. Berhubung para pedagang dari Makasar tersebut telah terlebih dahulu memeluk Islam, maka mereka juga menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat suku Ende yang waktu itu masih memeluk ajaran nenek moyang (animisme).

Contoh perpaduan budaya asli Ende dengan budaya dari Makasar yakni pakaian adat wanita yaitu Rambu (baju) yang hampir memiliki kesamaan bentuk dengan atasan baju Bodo (Baju Adat wanita Sulawesi Selatan).

Berbeda dengan sejarah perkembangan agama Islam, Kristianitas, khususnya Katolik sudah dikenal oleh Penduduk Lio sejak abad ke-16. Napak tilasnyanya diawali ketika tahun 1556 Pertugis tiba pertama kali di Solor dimana seperti yang kita ketahui bahwa mayoritas masyarakat Protugis mengimani agama Katolik. Selanjutnya tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat  (4) Misonaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di Flores. Diikuti pembangunan benteng di Solor tahun 1566 oleh Pastor Antonio da Cruz sehingga mempermudah penyebaran agama Kristen di daerah Flores khususnya di daerah Lio. Tahun 1577 sudah terdapat sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37).

Meskipun terdapat dua agama yang hidup dalam wilayah yang masih memiliki satu rumpun kebudayaan; kehidupan agama di wilayah Ende-Lio memiliki berbagai kekhasan. Bagaimana pun hidup beragama di Ende-Lio sebagaimana di daerah lainnya sangat diwarnai oleh unsur-unsur kultural, yaitu pola tradisi asli warisan nenek moyang. Di samping itu, unsur-unsur historis, yakni tradisi-tradisi luar turut berperan pula dalam kehidupan masyarakat. Kedua unsur ini diberi bentuk oleh sistem kebudayaan Flores sehingga di daerah Ende-Lio terdapat semacam pencampuran yang aneh antara kehidupan religius dan kekafiran (agama nenek moyang) (Vatter 1984:38)

II.          RIWAYAT MASYARAKAT ADAT ENDE-LIO

Penelusuran sejarah mengatakan bahwa penduduk pertama di pulau Flores adalah manusia Wajak, yang muncul sekitar empat puluh ribu tahun lalu. Setelah zaman glatsial sekitar empat ribu tahun yang lalu, Nusa Tenggara terpisah dari Asia daratan. Terjadilah imigran dari Asia ke selatan. Kelompok imigran itu adalah manusia Proto Malayid yang berasal dari Yunani dan pedalaman Indo Cina. Mereka mendiami Flores bagian barat dan tengah. Secara fisik mereka itu memperlihatkan ciri-ciri manusia Malenesoid, Negroid, Papua dan Australoid.

Professor Yoseph Glinka (pakar Antropologi Ragawi) yang membuat studi tentang manusia NTT, mengatakan: “… Ata Lio di Flores tengah merupakan penduduk tertua di Flores, … Ata Lio bertetangga dengan Ata Ende. Diantara keduanya tak terdapat hubungan geneologis. Keduanya juga bertetangga dengan Ata Nagakeo di barat dan Ata Sikka di bagian timur…”

Sejauh mana ungkapan kebenaran penelitian ini, tentu membutuhkan pengkajian dan pembuktian lebih mendalam. Yang jelas masyarakat adat dari dua etnis besar ini ada dalam satu kesatuan geografis dan memiliki beberapa kesamaan budaya dan adat istiadat seperti cara berpikir dalam membangun kampung adat serta acara atau ritual/seremonial.

III.       RIWAYAT PERKAMPUNGAN ADAT ENDE-LIO

Keberadaan kampung tradisional sebagai jawaban atas tuntutan kebutuhan akan rumah dan kampung tempat tinggal bersama. Nenek moyang kedua etnis ini membangun rumah dan perkampungan adat dengan menggunakan teknologi dan arsitektur tersendiri sebagai manifestasi hasil cipta, karsa dan karya seni budaya di zamannya.

Sejarah membuktikan bahwa jauh sebelum peradaban modern, di wilayah Kabupaten Ende telah hidup nenek moyang dari dua etnis dalam satu peradaban yang telah maju di zamannya. Mereka memiliki kemampuan dalam mengekspresikan seni budayanya dalam bentuk karya sebuah perkampungan tradisional yang bernilai tinggi arsitekturnya sehingga hal ini menjadi bahan penelitian para pakar bangunan.

Perkampungan tradisional dengan bangunan-bangunan rumah adat dan bangunan pendukung lainnya seperti Keda, Kanga, Tubu Musu merupakan warisan leluhur, walaupun di beberpa tempat sudah mengalami perubahan dan kepunahan dari bentuk aslinya akibat proses alam, perjalanan waktu dan ulah manusia. Namun demikian tetap mempunyai nilai sejarah dan daya tarik bagi pencinta wisata budaya.

Rasa kebersamaan dan tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan warisan budaya nenek moyang masih mewarnai kehidupan masyarakat adat sekarang seperti dalam upaya membangun kembali kampung dan rumah adat di Nggela, Wiwipemo, Jopu, Mbuli, Wologai, Ndona dan beberapa tempat lain. Kegiatan ini berkembang menjadi atraksi wisata budaya. Beberapa tempat yang memiliki tradisi tersebut adalah kampung-kampung tradisional yang tersebar dalam wilayah Kabupaten Ende seperti Ranggase, Moni, Tenda, Nuakota, Pora, Wolojita, Wolopau, Nuamulu, Sokoria, Kurulimbu, Ndungga, Wololea, Woloare, Wolofeo, Saga, Pu’utuga, dll.

Salah satu perkampungan dan rumah adat tradisonal yang masih utuh bangunannya adalah di Ngalupolo, terletak di Kecamatan Ndona. Perkampungan tua yangm menarik dan mempunyai bentuk rumah yang unik dengan arsitektur khas Ende-Lio walaupun atapnya mirip Joglo seperti di pulau Jawa–namun berbeda latar belakang filosofisnya.

Rumah tinggal dan perkampungan tradisional yang dibangun nenek moyang tersebut, memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya sehingga tampak unik dan memberikan kedamaian bagi penghuninya.

Perjalanan waktu yang begitu panjang dan akulturasi budaya akibat masuknya etnis pendatang dari luar, seperti dari Bugis, Makasar dan Bima telah mempegaruhi kehidupan budaya masyarakat setempat. Pada awalnya nenek moyang Ata Ende membangun rumah dan perkampung adat sama seperti Ata Lio, namun pada perkembangannya mengalami perubahan yang kemudian disebut “Sa’o Panggo” atau “Tiga Tezu” (Rumah Panggung Tiga Kamar) dimana tiang dan lantainya terbuat dari balok kayu atau kelapa gelondongan, berdinding bambu, beratap daun kelapa atau sirap bambu dengan bentuk atap memanjang dan puncaknya dihias seperti sirip ikan. Rumah ini memiliki kolong.

IV.       STRUKTUR GEOGRAFIS WILAYAH ENDE-LIO

Batas Wilayah Kabupaten Ende:

·         Sebelah Utara Kabupaten Ende Berbatasan dengan Laut Flores di Nangaboa dan Ngalu Ijukate

·         Sebelah Selatan Kabupaten Ende berbatasan dengan Laut Sawu juga di Nangaboa dan Ngalu Ijukate

·         Sebelah Timur Kabupaten Ende berbatasan dengan Kabupaten Sikka

·         Sebelah Barat Kabupaten Ende berbataan dengan Kabupaten Ngada

 

Kabupaten Ende mempunyai Luas 2.046,60 km². dengan wilayah administratif yang terdiri dari 20 Kecamatan yang dibagi lagi menjadi 165 Desa dan 20 Kelurahan. Secara terperinci 20 wilayah Kecamatan yang ada di Kabupaten Ende, yakni,

1.      Kecamatan Ngapanda

2.      Kecamatan Pulau Ende

3.      Kecamatan Maukaro

4.      Kecamatan Wewaria

5.      Kecamatan Detusoko

6.      Kecamatan Wolojita

7.      Kecamatan Wolowaru

8.      Kecamatan Kelimutu

9.      Kecamatan Maurole

10.  Kecamatan Detukeli

11.  Kecamatan Kota Baru

12.  Kecamatan Lio Timur

13.  Kecamatan Ende

14.  Kecamatan Ende Selatan

15.  Kecamatan Ndona

16.  Kecamatan Ndona Timur

17.  Kecamatan Ndori

18.  Kecamatan Ende Timur

19.  Kecamatan Ende Tengah

20.  Kecamatan Ndona Timur.

V.          SENI SASTRA ENDE-LIO

Kabupaten Ende mempunyai dua etnik, yaitu etnik Ende dan etnik Lio. Kedua suku ini mempunyai gaya bahasa yang berbeda baik dalam kata-kata maupun dialek/logatnya; sehingga dari segi bahasanya suku Ende disebut ata jaő dan suku Lio disebut ata ina. Selain bahasa sehari-hari atau bahasa pasar, ada pula bahasa adat dalam ungkapan kata-kata adat maupun berbentuk lagu mengandung seni sastra yang sangat tinggi yang dipertahankan secara turun temurun hingga kini. Ungkapan kata-kata adat hanya digunakan pada saat berbagai acara adat maupun acara ritual/seremonial adat dan acara-acara lainnya yang berkaitan dengan adat.

Adapun seni sastra yang ada di Ende-Lio diantaranya:

a.    Sua

Yakni, ungkapan kata-kata adat yang mengandung arti dan makna pada suatu benda untuk memperoleh kekuatan pada benda tersebut bila digunakan sebagai sarana.

b.   Sua Sasa

Ungkapan kata-kata adat yang bersifat kutukan atau membalas/mengembalikan kejahatan yang dibuat oleh orang lain baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi.

c.    Soa Somba

Ungkapan kata-kata adat yang bersifat permohonan agar dalam kegiatan/usaha  memperoleh hasil  yang berlimpah atau yang memuaskan.

d.   Soa Sola

Ungkapan kata-kata adat yang bersifat permohonan agar dalam kegiatan/usaha memperoleh hasil yang berlimpah atau yang memuaskan.

e.    Bhea

Ungkapan kata-kata adat yang merupakan syair kebanggaan dari suku-suku/kaum keluarga secara turun-temurun; diucapkan pada saat seremonial adat dan juga awal dari tarian woge.

f.    Nijo

Ungkapan kata-kata adat/doa dengan kata kunci atau Ine yang dilakukan oleh Ata Bhisa Mali/Dukun dalam proses penyembuhan orang sakit, seperti Nijo Ru’u atau penyakit lainnya.

g.   Nunga Nange

Berbagai jenis cerita rakyat seperti mite, sage, legenda, dll. Diceritakan oleh orang tua pada saat senggang atau menjelang tidur dan juga pada saat memetik hasil panen.

h.   Lota

Membaca tulisan naskah/syair pada daun lontar/wunu keli dalam bahasa dan tulisan sansekerta. Hal ini merupakan satu keanehan karena bahasanya tidak dimengerti tetapi orang senang mendengarnya. Membaca naskah Lota ini sebenarnya merupakan busaya Jawa yang telah menjadi akar budaya Ende dan dipertahankan secara turun-temurun hingga kini.

i.     Sodha

Ungkapan kata-kata adat dengan nada pada acara Gawi dan susunan kata-katanya disesuaikan dengan acara pesta adat yang diperuntukan. Sodha dibawakan oleh salah satu orang yang telah ditunjuk. Sodha Gawi tidak dibatasi dengan waktu dan yang paling unik yaitu syairnya tidak ditulis dan bukan semua orang menjadi pe-sodha, melainkan hanya orang-orang tertentu.

j.     Doja

Menyanyikan lagu yang dipersiapkan secara khusus dalam suatu acara baik dalam pesta adat maupun lagu pernikahan atau lagu hymne dinyanyikan secara serius dengan penuh penghayatan. Lagu-lagu yang dinyanyikan disebut juga lagu selamat.

k.   Jenda

Dinyanyikan secara spontan/tanpa teks oleh seseorang atau dua orang secara bergantian dengan syair pele nekē seperti berbalas pantun pada acara seremonial adat. Jenda biasanya dalam posisi duduk dan isinya antara lain mengisahkan perjalanan hidup; bila dinyanyikan oleh dua orang kata-katanya merupakan sindiran.

l.     Woi Nada

Ratapan yang mengisahkan perjalanan hidup pasangan muda-mudi yang menyedihkan dalam cerita rakyat Ende-Lio dan ada pula Woi yang dilakukan para dukun/bhisa mali dalam mengobati orang sakit dengan melagukan nada woi dalam keadaan tanpa sadar untuk menelusuri penyebab sakit/penyakit.

m. Peo Oro

Yaitu menyanyikan lagu-lagu tradisional oleh peo/solo dan dijawab oleh koor/oro. Peo Oro ini sangat kaya, karena untuk mengatasi sesuatu pekerjaan yang berat menjadi ringan, seperti:

–          Mboka : Goro watu rate dan balok menggunakan rumah adat wa’u barang berat lainnya dengan cara menarik bersama-sama.

–          O Lea: Lagu dalam kebersamaan meniti jagung yang dipanen.

–          Rongi : membuka lahan atau kebun

–          Dawe Dera: menanam tanaman

–          Debu Dera: menetas padi, dll.

n.   Soka Ke Lai Lowo:

Syair lagu untuk menina-bobokan anak kecil dan lagunya hampir sama dengan sodha, hanya syairnya merupakan kata-kata jenaka dan Soka Ke ini juga dipakai dalam acara gawi yang tidak resmi disebut Sodha Lai Lowo.

o.   Ndeo

Penyanyi menyanyikan lagu secara bebas baik secara serius maupun bersifat jenaka/menghibur dalam berbagai acara. Ndeo ini berkembang menjadi pop Ende-lio dalam rekaman audio-visual berbentuk kase/VCD yang berkembang pesat menjadi hasil produksi para seniman/seniwati Kabupaten Ende.

VI.       SENI TARI ENDE-LIO

Tarian Ende-Lio adalah sebua tarian daerah yang mengekspresikan rasa lewat tatanan gerak dalam irama musik dan lagu. Dilihat dari tata gerak dan bentuknya, tarian Ende-Lio dapat dibagikan beberapa jenis, diantaranya yaitu:

·         Toja

Kelompok penari menarikan sebuah tarian yang telah ditatar dalam bentuk ragam dan irama musik/lagu untuk suatu penampilan yang resmi

·         Wanda

Penari dengan gayanya masin-masing, menari mengikuti irama musik/lagu dalam suatu kelompok atau perorangan.

·         Wedho

Menari dengan gaya bebas dengan mengandalkan gerak kaki seakan-akan melompat; dengan mengandalkan kelincahan kaki dengan penuh energi dan dinamis, dilengkapi dengan sarana mbaku dan sau atau perisai dan pedang/parang.

·         GawiGAWI-ende lio

Gerak tari dengan menyentakan kaki pada tanah.

Untuk istilah toja dan wanda sebenarnya sama arti yaitu menari, hanya cara dan fungsinya berbeda dan kata wanda untuk suku Lio berarti Toja. Dari generasi ke generasi para instruktur tari/peñata tari telah banyak menciptakan tarian dianataranya, yaitu:

a.       Gawi Naro

Jenis tarian ini berbentuk lingkaran mengelilingi tubu musu dengan cara berpegangan tangan dan menyentakan kaki dalam bentuk dua macam ragam yairu Ngendo dan Rudhu atau ragam mundur dan maju.

b.      Tekka Se

Tarian ini bentuknya seperti gawi/naro, hanya berupa gerakan kaki satu ragam dan gerakan putaran lebih cepat dari gawi/naro. Keunikan dari Tekke Se, pada bagian tengah lingkaran dinyalakan dengan bara api atau api unggun, dan tarian ini diadakan pada setiap acara seremonial di wilayah Nangapanda dan sekitarnya

c.       Wanda/Toja Pau

Tarian massa penampilan secara perorangan/individual dalam suatu acara, biasanya menari diiringi dengan selendang diiringi musik nggo wani, lamba atau musik feko genda. Biasanya bila penari wanita selesai menari, dia harus memberikan selendang tersebut kepada laki-laki, atau lebih khususnya yaitu ana noő, demikian sebaliknya ana noő memberi selendang kepada ana eda/bele untuk menari.

d.      Neku Wenggu

Tarian ini berbentuk arak-arakan oleh sekelompok penari dalam acara penjemputan atau mengantar sarana paä loka/sesajian atau para tamu dan lain-lain. Bentuk tarian neku wenggu sangat banyak dengan masing-masing nama dari setiap daerah di Ende-Lio, diantaranya yaitu: Napa Nuwa, Poto Wolo, Poto Pala, Goro Watu/Kaju, dll.

e.       Tarian Joka Sapa

Tarian ini tergolong tarian nelayan dan juga ada jenis yang sama seperti tarian Manu Tai di Ngalupolo-Ndona. Kekhasan tarian ini, para gadis/penari dengan pakaian nelayan diiringi dengan musik/lagu gambus. Adapula tarian nelayan dibawakan oleh masyarakat di pesisir pantai Ende Selatan/Utara dengan berbagai nama tarian seperti: terian Nelayan, tarian Irikiki, terian Geru Gaga, Tarian Manusama, Tarian Wesa Pae, dll.

f.       Tarian Mure

Mure artinya saling mendukung, tarian ini terdiri dari para ibu/gadis dari keluarga mosalaki di Nggela, Pora, Waga yang diadakan pada acara ritual adat memohon hujan. Tarian ini dengan kostum tradisional, lawo tege kasa dan tidak berbaju, musik pengiringnya yaitu nggo wani/Lamba disertai dengan lagu yang khas Wenggu untuk tarian Mure.

g.      Tarian Sangga Alu/Assu

Tarian ini awalnya adalah permainan dan lambat laun berkembang menjadi sebuah tarian dan penarinya terdiri dari 2 (dua) pasang muda-mudi disertai dengan seorang ana jara. Dalam penampilan dibutuhkan 4 hingga 8 orang pemain bambu palang dengan cara menyentak dan menjepit secara serentak. Para penari memasukan kaki diantara bambu dari tempo lambat hingga tempo cepat, selanjutnya dipadukan dengan irama lagu serta ana jara menari mengelilingi penari/pemain bambu palang.

h.      Jara Angi

Tarian jara angi atau kuda siluman dan yang paling popular disebut Tari Kuda Kepang, penarinya terdiri dari anak-anak atau para remaja pria. Penari dilengkapi dengan kuda yang dibuat dari Mba’o (selendang pinang) atau daun kelapa yang dianyam dengan bentuk seperti kuda.

i.        Tarian Pala Tubu Musu

Penari terdiri dari para ibu/gadis dari setiap keluarga mosalaki di Wolotopo-Ndona, dengan seorang laki-lai sebagai penari woge untuk upacara paä loka atau memberi sesajian di tubu musu.

j.        Tarian Dowe Dara

Tarian dowe dara ditarikan pada saat menanam tanaman. Para penari terdiri dari 2 (dua) kelompok yairu kelompok laki-laki dan kelompok perempuan, dengan upacara ritual adat di tempat Mopo (ditengah-tengah ladang).

k.      Tarian Napa Nuwa

Tarian ini sebagai luapan kegembiraan dari para pejuang yang telah menang dalam peperangan. Penari terdiri dari beberapa pejuang atau beberapa orang laki-laki, dilengkapi dengan alat perang yaitu mbale dan sau sambil bergerak dalam bentuk lingkaran. Tarian ini diawali dengan neku wenggu dilanjutkan dengan bhea dan woge serta ruǔ atau agak dengan sau sambil bergerak dalam bentuk lingkaran. Tarian dari Desa Wolotopo ini diiringi dengan musik Nggo Lamba/Wani dan lagu Da Seko.

l.        Tarian Ule Lela Nggewa

Judul tarian ini identik dengan lagunya yang sangat khas, bila orang mendengar atau menyanyikan lagu Ule Lela Nggewa pasti akan ingat dengan tariannya. Dalam tarian ini penarinya terdiri dari para gadis dan musik pengiringnya hanya sebuah gendang, Pada zaman dahulu para leluhur menggunakan batu sebagai musik pengiringnya. Tarian ini telah membawa NTT dalam tingkat Nasional di Jakarta dibawakan oleh Sanggar Seni Budaya NTT dan Festival Seni Budaya di berbagai Negara dibawakan oleh Yayasan Budaya Bangsa.

m.    Tarian Woge

Tarian woge diiringi dengan nggo lamba/wani dengan irama yang khas. Tarian ini biasanya ditarikan oleh satu orang atau secara individual pada upacara adat didahului dengan kata-kata/syair atau bhea. Penari dilengkapi dengan alat-alat perang seperti mbaku dan sau atau perisai dan pedang/parang, pada pergelangan kaki dikat dengan untaian woda atau lonceng giring-giring. Dewasa ini dasar dari tarian woge berkembang menjadi tarian secara group/massa dengan tata gerak atau ragamnya serta design lantai digarap dengan berik sehingga menjadi sebuah tarian yang indah.

 

Di Kabupaten Ende masih sangat masih sangat banyak tarian yang sudah dikenal oleh masyarakat luas yang belum dapat kami uraikan secara satu persatu. Kekayaan seni tari selain tari tradisional yang menyangkut upacara adat, ada pula para instruktur tari menampilkan karyanya dengan judul dari berbagai jenis burung, berladang, menenun, nelayan, dan tari kreasi baru lainnya.

VII.    KERAJINAN TENUN IKAT MASYARAKAT ENDE-LIO

Sebagian besar masyarakat Ende-Lio hidup dari bercocok tanam, nelayan dan beternak seperti kerbau kuda, sapi dan kambing. Jenis-jenis hewan tersebut dipergunakan sebagai alat pembayaran mas kawin. Dan kehidupan masa lampau juga sering memanfaatkan hewan kuda sebagai sarana transportasi. Selain profesi tersebut hal yang sangat menonjol dari daerah suku Ende-Lio adalah kerajinan tenun ikatnya. Meski demikian diantara kedua wilayah suku ini sedikit memiliki perbedaan jenis kerajinan tenun ikat.

·         Kerajinan Tenun Ikat Ende

Seperti halnya di Sumba dan Timor, menenun dikerjakan oleh para wanita. Kepandaian menenun ini diwariskan secara turun-temurun, dan telah dipelajari sejak mereka masih kecil. Salah satu tradisi para wanita penenun yang menarik yaitu kebiasaan memakan sirih khususnya saat sepanjang hari mereka bertenun. Jenis-jenis kain tenun yang dihasilkan adalah selendang lebar yang berfungsi sebagai selimut bagi laki-laki dan sarung untuk wanita. Selimut atau selendang juga digunakan sebagai penutup jenasah yang akan dimakamkan. Selain sebagai selimut dan pakaian yang dijual bebas di pasaran, kain tenun juga dipergunakan sebagai perlengkapan upacara adat, sebagai pakaian adat, pakaian upacara dan juga mass kawin.

Beragamnya fungsi dan banyaknya permintaan kain tenun ikat, membawa banyak perubahan dalam proses pembuatannya. Selain digunakan pewarna sintesis, kini benang rayon juga digunakan sebagai bahan baku kain tenun ikat. Meskipun demikian, kain tenun ikat dicelup dengan pewarna alami dan menggunakan bahan baku tradisional yaitu benang dari kapas juga masih ada.

Tenun ikat Ende dibuat dari bahan kapas yang dipilih oleh penenunnya sendiri. Benangnya kasar dan dicelup warna biru indigo. Kain dihiasi dengan ragam hias bentuk geometris aneka warna yang cerah dan menyolok.

Hasil tenunan di daerah Ende sedikit bergaya Eropa. Lokasinya yang terletak di daerah pesisir pantai selatan Flores memungkinkan orang-orang Ende pada masa lalu berhubungan dengan orang Eropa. Tenun ikat Ende lebih banyak menggunakan warna cokelat dan merah. Salah satu ragam hias kain tenun Ende yang berbeda dengan kain tenun daerah-daerah lainnya adalah hanya menggunakan satu motif pada bidang tengah-tengah kain. Motif tersebut diulang-ulang dan baru berhenti pada jalur pembatas bermotif sulur di kedua ujung kain yang menyerupai tumpal dan diberi hiasan rumbai-rumbai. Jalur pembatas kain-kain tenun Ende pada umumnya tidak hanya di kedua ujung kain, melainkan dapat dibuat di bagian tengah, samping kedua ujung atau pinggir kain.

·         Kerajinan Tenun Ikat Lio

Salah satu daerah di Flores yang cukup menonjol dalam pembuatan kain tenun ikatnya adalah daerah Lio. Ragam hias kain tenun ikat dari daerah ini diilhami oleh kain patola India berupa motif ceplok seperti jelamprang pada kain batik. Selain motif ceplok kain dari Lio ini juga dihias dengan motif daun dan ranting. Kain patola diperkenalkan oleh para pedagang dari Portugis, yang pada abad keenam belas mengadakan perdagangan dan pertukaran kain patola dengan rempah-rempah dari Nusantara bagian timur. Bangsa Portugis dan bangsa-bangsa Eropa lain (Belanda dan Jerman) meninggalkan pengaruh yang begitu besar, terutama karena banyaknya misionaris.

Kain tenun ikat dengan motif patola mempunyai nilai tinggi. Oleh karena itu, daerah-daerah tenun di wilayah Nusa Tenggara Timur memiliki motif-motif patola yang diperuntukan khusus bagi kalangan raja-raja, pejabat dan tokoh adat yang jumlahnya terbatas. Kain tenun Lio dengan ragam hias patola ini juga hanya dipergunakan di kalangan keluarga kepala adat atau pendiri kampung yang disebut mosalaki. Bahkan kain dianggap sangat istimewah hingga ikut dikuburkan bersama jenazah seorang bangsawan atau raja. Selain itu kain patola dari Lio panjangnnya mencapai sekitar empat meter.

Ciri khas motif tenun Lio yang lain adalah ukurannya yang kecil dengan bentuk geometris, manusia, biawak dan lain-lain yang disusun membentuk jalur-jalur kecil berwarna merah atau biru di atas dasar warna gelap. Kain tenun Lio ini juga diberi hiasan tambahan atau aplikasi dengan manik-manik dan kulit kerang. Pakaian dengan hiasan khusus ini hanya dipergunakan dalam upacara-upacara adat tertentu.

Selain terkenal dengan tenunnya, Lio juga penghasil kerajinan tembikar berupa kebutuhan rumah tangga khususnya peralatan dapur yang terbuat dari tanah liat. Ada satu kesamaan ragam hias pada kain tenun ikat dan barang tembikar yaitu goresan garis-garis geometris seperti bentuk maender, kait, belah ketupat, tumpal dan lainya yang sering terdapat pada ragam hias ikat pada kain tenun dan anyaman.

VIII. ANEKA WISATA DI DAERAH ENDE-LIO

·         Danau Kelimutu

Ende adalah wilayah yang menyenangkan dengan panorama bukit yang mengelilingi. Pada kawasan perbukitan yang mengelilingi Ende terdapat gunung Meja (661 m) yang berada berdekatan dengan Bandar Udara Arubusman. Sementara gunung yang lebih besar, gunung Iya berada di sebelah selatannya. Pada Bulan Desember 1992 sebuah gempa bumi menghancurkan dan memporak-porandakan Ende namun saat ini telah kembali normal. Ende memiliki cuaca panas dan berdebu khusunya pada saat akhir musim kering.

Bumi Kabupaten Ende yang berbukit-bukit ternyata menyimpan keindahan yang luar biasa. Disinilah terdapat gunung Kelimutu , di kawasan Taman Nasional Kelimutu. Terdapat juga Danau Kelimutu yang disebut juga Danau Tiga Warna yang begitu terkenal. Bahkan, danau ini oleh dunia disebut sebagai salah satu dari Sembilan Keajaiban Dunia.

Keindahan danau ini dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal mistik oleh masyarakat setempat. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga para peneliti yang ingin tahu fenomena alam yang amat langkah ini. Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.

Gunung Kelimutu meletus terakhir pada 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang airnya berwarna merah (tiwu ata polo), biru (tiwu ko’o fai nuwa muri) dan putih (tiwu ata bupu). Ketiga warna ini mulai berubah sejak 1969 saat meletusnya gunung Iya di Ende, dan perubahan warna itu pernah serupa.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, danau dengan air warna merah merupakan tempat berkumpulnya para arwah orang jahat. Danau biru untuk arwah para muda-mudi, dan danau berwarna putih untuk arwa orang tua. Para arwah diyakini akan bermukim di danau itu sesuai status sosialnya.

·         Rumah Pengasingan Bung Karno Di Ende

Setelah puas menikmati keindahan panorama Danau Kelimutu, wisatawan bisa singgah di rumah bekas pengasingan Proklamator RI Soekarno yang terletak di jantung kota Ende. Di sini tersimpan barang-barang milik Soekarno ketika menjalani masa pengasingan selama empat tahun di Ende. Rumah yang terletak di jalan Perwira, Kota Ende itu tampak seperti layaknya permukiman penduduk karena kosntruksinya menyerupai permukiman di sampingnya.

Hal yang membedakannya adalah sebuah papan nama bertuliskan “Situs, Bekas Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende” yang terpampang di halaman depan. Di rumah yang berukuran 12X9 meter ini, Presiden pertama Republik Indonesia itu menjalani masa pengasingan oleh kolonial Belanda selama empat tahun (1934-1938).

Dalam berbagai catratan yang mengupas tentang masa pengasingan Bung Karno di Ende Pulau Flores NTT salah satu yang paling diminati masyarakat adalah buku berjudul “Bung Karno, Ilham Dari Flores Untuk Nusantara”. Buku ini menceritakan perenungan Bung Karno di bawah sebuah pohon Sukun bercabang lima yang melahirkan gagasan lima butir Pancasila. Kelima butir Pancasila secara resmi diumumkan Bung Karno pada 1 Juni 1945 di depan sidang Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai.

Rumah Soekarno dan pohon sukun menjadi dua saksi sejarah yang berada di jantung kota Ende yang tetap terpelihara dengan baik sampai sekarang. Di kalangan masyarakat Ende, rumah pengasingan bung Karno ini dianggap sakral.

·         Museum Bahari Ende

Wisatawan yang berada di Ende dapat juga menikmati Museum Bahari yang dibangun dengan koleksi antara lain biodata laut. Museum ini dapat dikunjungi setiap hari dan disebelah terdapat Museum Rumah Adat yang berbentuk rumah adat dengan ukuran besar.

Di depannya terdapat bangunan bergaya desa adat yang dilengkapi altar persembahan. Rumah tradisional masyarakat Ende yang berada di atas tiang dapat ditemui di Wolotopo yang terletak sekitar 8 Km di wilayah timur kota Ende.

rumah adat manulondo ndona·         Perkampungan Wisata Moni

Moni adalah sebuah desa yang cantik dengan udara pegunungan yang sejuk dan tempat yang menyenangkan untuk berjalan-jalan. Desa ini merupakan pintu gerbang bagi wisatawan yang akan menuju ke Danau Kelimutu. Wilayah Desa Moni yang berada di jalur jalan Ende–Maumere merupakan pusat dari wilayah Lio yang meliputi kawasan mulai dari timur Ende hingga ke Wolowaru.

Beberapa desa di sekitar Moni merupakan sentral kerajinan tenun ikat antara lain di Desa Wolowaru yang berada di jalan raya menuju Maumere. Desa yang terletak sekitar 13 Km di tenggara Moni ini dapat menjadi titik awal perjalanan menuju ke beberapa desa lainnya yang juga menjadi sentral kerajinan tenun ikat seperti Jopu, Wolojita dan Nggela.

Produksi kain tenun ikat di Nggela dikerjakan dengan tangan dan menggunakan celupan pewarna alami. Hasil kain tenun dari Nggela merupakan salah satu yang terbaik di Flores. Di Nggela, wisatawan dapat langsung menyaksikan penduduk setempat membuat kain tenun ikat.

PEMUDA DESA MANULONDO DILATIH MEMBUAT TUNGKU HEMAT ENERGI

Para pemuda Desa Manulondo Kecamatan Ndona Kabupaten Ende dilatih untuk membuat tungku hemat energi dengan bahan dasarnya dari tanah liat. Pelatihan yang diselenggarakan oleh BPMPD Kabupaten Ende ini digelar selama dua hari.pelatihan-pembuatan-tungku-manulondo-ndona-2-2012.jpg

Tujuan kegiatan ini adalah melatih dan mengembangkan sumber daya manusia dengan memanfaatkan potensi lokal sebagai teknologi tepat guna. Teknologi ini merupakan teknologi pedesaan yang merupakan masukan yang besar dalam membantu masyarakat pedesaan untuk mendayagunakan potensi lokal seperti tanah liat dan kayu bakar sebagai sumber energi yang hemat.pelatihan-pembuatan-tungku-manulondo-ndona-1-2012.jpg

Zaman modern sekarang untuk memasak orang-orang lebih memelih dan menggunakan kompor gas  atau kompor minyak.  Sehingga tidaklah mengherankan jika harga minyak tanah ataupun gas setiap tahunnya melambung tinggi. Sebuah kompor yang terbuat dari tanah liat menyajikan banyak keuntungan di atas api terbuka untuk memasak. Kompor tanah liat mencapai suhu memasak lebih cepat, hanya membutuhkan satu-sepertiga dari kayu bakar api terbuka yang perlu untuk mencapai efek yang sama memasak. Mereka dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga menghasilkan lebih sedikit asap, yang bermanfaat untuk kesehatan paru-paru. Untuk alasan ini, kompor sangat populer di wilayah di dunia di mana penduduk terutama masak di atas api, meskipun siapapun yang ingin menikmati pengalaman memasak di luar ruangan yang unggul akan mendapat manfaat dari alat ini.pelatihan-pembuatan-tungku-manulondo-ndona-2012.jpg

Pembuatan tungku hemat ini jika dilihat dari segi pembuatan bahan bakunya banyak tersedia dan harga pembuatannya yang cukup murah  sehingga dapat dijadikan lapangan kerja bagi masyarakat desa. Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak tanah dan gas tidak berkelanjutan dan menimbulkan dampak negatif pada alam. Sebagai alternatif, kita dapat menggunakan bahan bakar dari sumberdaya alam yang dapat di perbaharui, salah satunya adalah kayu, asalkan pengambilannya masih di bawah batas daya dukungnya. Supaya kayu tidak cepat habis, digunakan berbagai cara untuk memaksimalkan pembakaran, antara lain dengan menggunakan tungku hemat energi yang dibuat dari tanah liat.

Pealatihan ini juga bermaksud agar para pemuda desa agar dapat membuat suatu usaha seperti home industri. Sehingga selain pemanfaatan bahan baku lokal juga dapat memberikan penghasilan bagi mereka.pelatihan-pembuatan-tungku-manulondo-ndona-3-2012.jpg

Di Ende, Siswa Suka Berkeliaran di Pasar

POS KUPANG.COM, ENDE — Anak sekolah di Kota Ende kerap berkeliaran di pasar atau jalan pada saat jam sekolah berlangsung. Beberapa lokasi yang menjadi tempat mangkal siswa, yakni di kompleks pertokoan di ruas Jalan Pabean Pasar Inpres Mbongawani, Jalan Banteng, Jalan Kelimutu maupun Jalan Gatot Subroto serta Pasar Senggol.
Pantuan Pos Kupang, Sabtu (1/9/2012) di tempat-tempat tersebut kerap ditemui siswa yang masih mengenakan seragam sekolah, dari pukul 08.00 Wita hingga pukul 13.00 Wita. Mereka duduk bergerombolan. Beberapa di antara mereka mengisap rokok.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ende, Yeremias Bore mengakui kondisi demikian memang sudah berlangsung lama. Oleh karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak sekolah yang kebanyakan siswanya kedapatan berkeliaran pada jam sekolah.
Menurut Yeremias, berdasarkan informasi yang dia peroleh, anak-anak sekolah memilih berkeliaran di pasar karena mereka terlambat datang ke sekolah. Akibatnya mereka memilih berada
di pasar ketimbang pulang rumah.
“Saat mereka datang ke sekolah terkadang pintu pagar sekolah sudah ditutup mereka tidak diperkenankan masuk sekolah oleh karena itu mereka memilih bermain di pasar ketimbang langsung pulang rumah karena apabila pulang rumah tentu akan dimarahi oran tua karena sudah pulang sebelum jam pelajaran sekolah usai,” kata Yeremias.
Terhadap persolan ini Yeremias mengatakan pihaknya menyayangkan masih ada siswa yang berkeliaran pada jam sekolah padahal keberangkatan mereka dari rumah untuk bersekolah namun kenyataanya justru mereka tidak sampai ke sekolah dan lebih  memilih berkeliaran pada jam sekolah.
Ia mengharapkan peran serta orang tua untuk memperhatikan keberadan anak mereka pada saat bersekolah. “Kalau bisa orang tua menerapkan jam belajar di rumah agar anak-anak mempunyai waktu untuk belajar dan rekreasi karena terkadang ada anak yang memilih nonton tv hingga larut malam yang berakibat mereka bangun terlambat sehingga terlambat juga ke sekolah. Pada saat ke sekolah pintu pagar sudah ditutup sehingga mereka memilih berkeliaran di pasar,” ujar Yeremias. (rom)

Sumber : Pos Kupang Senin, 3 September 2012

Abrasi Ancam Jalan Menuju Wolotopo

Laporan Wartawan Pos Kupang, Romualdus Pius

POS KUPANG.COM, ENDE —  Jalan menuju Desa Wolotopo dan Wolotopo Timur serta Desa Ngalupolo, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende nyaris putus akibat abrasi yang terjadi di wilayah itu. Arus lalu lintas dari Ende menuju ke tiga desa tersebut menjadi terhambat.

Kepala Desa Wolotopo Timur, Niko Dee menuturkan abrasi terjadi hampir setiap tahun. Dengan demikian, abrasi menjadi permasalahan klasik.

“Kalau terjadi abrasi maka dipastikan perjalanan warga menjadi terhambat. Selain karena abrasi perjalanan warga kerap terhambat menyusul ombak yang menerjang hingga ke badan jalan. Kalau ada ombak maka warga lantas mulai berlarian agar tidak basah atau terseret ombak pada saat hendak melewati ruas jalan tersebut,” kata Niko saat ditemui di Wolotopo, Sabtu (2/9/2012).

Dia menuturkan keberadaan ruas jalan menuju desa-desa di daerah Wolotopo maupun Ngalupolo kondisinya serba sulit untuk dilakukan perluasan.

“Kalau ke bawah ada laut lalu kalau ke atas ada bukit dan batu- batu besar. Apabila terjadi bencana alam seperti tanah longsor maka dipastikan daerah di wilayah Wolotopo menjadi terisolir dari sisi transportasi darat. Kecuali ada yang menggunakan perahu motor,” ujarnya.

Menurut Niko, keberadaan ruas jalan yang sulit menjadi kendala tersendiri bagi warga desa di Wolotopo Timur untuk membuka akses keluar daerah seperti hendak berjualan hasil bumi ke Ende. “Warga kerap menggunakan ojek untuk berpergian namun mereka harus hati-hati karena mengingat ruas jalan yang sempit diapit oleh jajaran bukit maupun batu serta laut di sekelilingnya,” kata Niko.

Niko mengatakan satu-satunya inftrastruktur yang diarasa sulit oleh warga adalah keberadaan ruas jalan menuju desa dari Kota Ende sedangkan soal listrik dan air tidak terlalu bermasalah karena sudah terpenuhi semenjak dulu. “Kalau air dan listrik tidak ada masalah sudah lama ada,” ujarnya.

Sumber : Pos Kupang
Senin, 3 September 2012

DIBALIK KEINDAHAN PANTAI NANGANESA NDONA

pantai mbu,u ndonaNanganesa, sebuah nama pantai yang terdapat di antara desa nanganesa dan desa manulondo Kecamatan Ndona Kabupaten Ende. Pantai Nanganesa sejak lama dikenal sebagai salah satu obyek wisata di Kabupaten Ende.

Namun, pantai yang terletak di Kecamatan Ndona itu menyimpan segudang misteri tersembunyi dengan kekuatan alamnya. Masyarakat setempat percaya bahwa di pantai nanganesa ada penghuni gaib yang menjaga pantai tersebut (dalam bahasa setempat disebut Nitu) . Sehingga bagi pengunjung diminta untuk tidak berbuat yang melanggar norma-norma masyarakat setempat.

Khusus bagi masyarakat desa manulondo, pantai nanganesa merupakan salah satu tempat untuk melakukan ritual goro fata joka moka (ritual tolak bala) yang kerap dilakukan setiap tahun. Ritual yang dimulai dari perkampungan (ulu/kepala) akan berakhir di pantai nanganesa sebagai eko (ekor). Pada beberapa titik di pantai nanganesa diyakini sebagai kediaman para nitu pai (makluk ghaib) sehingga baik masyarakat setempat maupun para pengunjung pada tempat-tempat tertenut dilarang untuk mandi ataupun berenang.

Menurut masyarakat setempat, hampir setiap tahun ada korban yang hilang atau tenggelam di pantai tersebut. Ada yang ditemukan dan ada yang tidak pernah ditemukan sampai sekarang. Jika masyarakat manulondo tidak pernah membuat upacara atau seremoni adat maka sudah pasti aka nada korban dalam tahun berjalan. Sebagai contoh tanggal 31 Agustus 2012 ini ada seorang gadis dari desa tetangga (desa wolotopo) yang hilang tanpa jejak dan telah dilakukan pencarian selama tiga hari namun belum menemukan hasilnya. Pada hal jarak antara korban dan bibir laut sangat jauh dan ombak tidak dalam keadaan yang ganas.

Pada dua tahun sebelumnya dua anak kakak beradik hilang ketika mandi dikali yang bermuara ke pantai nanganesa. Sementara kondisi kali kedalamannya hanya 50 cm. namun pencarian terhadap dua anak membutuhkan waktu sehari semalam. Sehingga dengan keyakinan warga setempat, maka upaya pencarian dilakukan dengan cara telanjang (tanpa mengenakan busana) yang dilakukan pada malam hari. Sehingga dalam sekejap dua anak tersebut ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di bawah salah satu pohon. Pada hal menurut warga sejak hilang mereka juga mencari dipohon tersebut namun tidak menemukan mayat.

Inilah sekilas kekuatan alam dibalik keindahan pantai nanganesa. Sehingga bagi para pengunjung pantai nanganesa selain berhati-hati terhadap keganasan  ombak juga dihimbau untuk tidak bertindak yang senonoh dan semena-mena.