NDONA: POTRET DAN CORONG KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Sebuah moment indah pada tanggal 9-16 September 2012. Suatu pemandangan yang cukup menarik dan langka di negeri ini ketika menyaksikan kelompok masyarakat  yang berbeda keyakinan berbaur dalam satu suasana kebersamaan tanpa ada sekat yang membedakan dari sisi keyakinannya.kerukunan-bergama-di-ndona1.jpg

Dalam acara penyambutan salib Orang Muda Katolik (OMK) Masyarakat Kecamatan Ndona yang berbeda keyakinan itu bersama-sama menyambut salib OMK dari  desa ke desa dan dari lingkungan ke lingkungan. Demikian pula ketika acara pawai takbiran menyambut Idul Fitrih 1433 H yang lalu, masyarakat non muslim-pun juga ikut berpartisipasi dan bahu membahu dalam menyemarakan pawai takbiran idul fitrih.pawai-takbiran-idul-fitrih-1433-remas-al-anshor-ndona

Suasana ini merupakan suatu potensi dan nilai tersendiri di wilayah Ndona. Ndona merupakan corong kerukunan dan kekeluargaan di wilayah Kabupaten Ende dan mungkin pula di pelosok negeri ini. Di wilayah ibukota Kecamatan Ndona ini selain berdiri Istana Keusukupan Agung Ndona yang bernilai histori dan Gereja Maria Imaculata Ndona, namun berdiri pula 8 buah masjid dan mushola yang tersebar di beberapa lingkungan yang berjarak kurang lebih 1 Km.kerukunan-bergama-di-ndona

Sementara itu secara keseluruhan di wilayah Kecamatan Ndona terdapat 10 Buah masjid dan mushola, 2 buah gereja dan 16 buah Kapela. Dengan jumlah penduduknya yang beragama islam 3125, Katolik 10.061, dan protestan 10 jiwa (Sumber: portal.endekab,2008)

Dari potensi tersebut, perbedaan keyakinan bukanlah sekat yang harus memisahkan semangat persaudaraan bagi mereka. Berbagai isu yang berbau SARA dan menimpa negeri ini tidak berlaku bagi masyarakat Ende umunya dan Ndona khususnya. Satu hal yang menjadi faktor perekatnya sebagai nilai kearifan lokal adalah adanya hubungan kawin mawin dan satu keyakinan masyarakat bahwa mereka adalah satu keluarga.

Inilah yang menjadi nilai kearifan lokal dan memiliki makna karena tetap menjadi rujukan dalam mengatasi setiap dinamika kehidupan sosial, lebih-lebih lagi dalam menyikapi berbagai perbedaan yang rentan menimbulkan konflik. Keberadaan nilai kearifan lokal justru diuji ditengah-tengah kehidupan sosial yang dinamis. Di situlah sebuah nilai kebersamaan dan kekeluargaan dirasakan. Secara empiris nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Ndona telah teruji keampuhannya ketika isu-isu SARA menimpa negeri ini.

Dalam tahun-tahun belakangan ini semakin banyak didiskusikan mengenai kerukunan hidup beragama. Diskusi-diskusi yang sangat penting, bersamaan dengan berkembangnya sentimen-sentimen keagamaan, yang setidak-tidaknya telah menantang pemikiran teologi kerukunan hidup beragama itu sendiri, khususnya untuk membangun masa depan hubungan antaragama yang lebih baik–lebih terbuka, adil dan demokratis.pawai-takbir-idul-fitrih-1433-h-remas-al-anshor-ndona

Kita semua tahu, bahwa masalah hubungan antaragama di Indonesia belakangan ini memang sangat kompleks. Banyak kepentingan ekonomi, sosial dan politik yang mewarnai ketegangan tersebut. Belum lagi agama sering dijadikan alat pemecah belah atau disintegrasi, karena adanya konflik-konflik di tingkat elite.

Namun dalam sejarah kehidupan umat beragama, sering terjadi bahwa perbedaan keagamaan dan keimanan dijadikan sebagai pemicu atau alasan pertentangan dan perpecahan. Di banyak tempat, termasuk di negeri ini, telah terjadi konflik berdarah dan berapi yang menelan banyak korban manusia dan harta benda, serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan di pelbagai bidang, di lingkungan kita. Unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu dan sasaran penghancuran dalam konflik tersebut.

Menurut pemahaman teoritis dan pengakuan “oral” banyak pihak, agama bukan dan tidak boleh dipandang serta dijadikan sebagai pemicu konflik dan perpecahan, melainkan adalah dan harus dipandang serta dijadikan sebagai penunjang perdamaian dan persatuan.

Namun kenyataannya dalam perilaku atau tindakan orang-orang tertentu, entah dengan sengaja atau tidak, agama dipakai sebagai pemicu konflik dan perpecahan.

Bahkan ada orang-orang tertentu yang menganggap dan menjadikan agama sebagai dasar atau alasan untuk tidak boleh hidup bersama atau harus hidup terpisah, tidak boleh berdamai atau rukun dengan orang yang berbeda agama. Bahkan ada anjuran untuk memusuhi dan membinasakan orang-orang yang beragama lain.

Akan tetapi uraian singkat tentang masyarakat Ndona di atas merupkan potret dan corong bagi masyarakat di negeri dalam kehidupan beragama. Perbedaan bukanlah suatu musuh yang harus di jauhi karena dalam diri kita sendiri sudah ada perbedaan. Tangan kiri dan tangan kanan bentuknya tidaklah sama, mata kiri dan mata kanan juga tidak sama, namun ketika salah satu bagian tubuh yang dicubit ataupun terantuk semua anggota badanpun akan merasakan kesakitan dan mulutlah yang ditugsakan untuk berteriak kesakitan. Demikian pula dengan hidup dan kehidupan bergama. Perbedaan dikelola sebagai potensi untuk membangun dalam semangat kebersamaan.

Jika Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Suryadharma Ali pernah mengungkapkan rasa kagumnya ketika acara pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran XXIV tingkat nasional di Kota Ambon, Kamis (7/6/2012) bahwa, potret kerukunan antarumat beragama ada di Kota Ambon., namun bagi kami Kabupaten Ende khususnya di Wilayah Kecamatan Ndona merupakan sentralnya Kerukunan Umat Beragama.

Oleh : Ihsan Dato

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: